Tekhnik-tekhnik komunikasi terapeutik

Tekhnik komunikasi terapeutik

Komunikasi terapeutik harus menjadi andalan perawat yang utama dalam melayani selain dari skill dan keahlian yang mupuni. Keahlian yang baik tanpa teknik komunikasi yang baik akan menjadi sia-sia. Komunikasi menjadikan salah paham menjadi hilang, hubungan yang baik. AHok adalah contoh komunikasi yang tidak baik, hal baik yang ia laukan menjadi tak terlihat bagi orang yang belum merasakan sentuhan tahan dinginnya.

Komunikasi adalah kunci dan jalan menuju kesuksesan. Komunikasi terapeutik adalah nafas pelayana perawat. Tekhnik komunikasi terapeutik yang baik adalah DNA perawat.

Contoh tekhnik komunikasi terapeutik bagi perawat

  1. Bertanya

Bertanya (questioning): tekhnik mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Tekhnik komunikasi terapeutik dengan cara bertanya dilakukan untuk mengetahui perasaan klien. Pasien memiliki keengganan untuk mengungkapkan perasaanya.

Bertanya tentang kebutuhan klien juga penting bagi pelayana, mereka akan merasa diperhatikan.

 

  1. Mendengarkan

Mendengarkan (listening) adalah proses aktif dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima.

Tekhnik komunikasi terapeutik mendengarkan mungkin yang paling sulit untuk dilakukan oleh sebab terbatasnya waktu perawat dalam melayani oleh sebab perawat harus melayani setidaknya 5 orang pasien.

 

  1. Mengulang

Mengulang (restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien.

Tekhnik komunikasi terapeutik mengulang digunakan ketika kita tidak yakin akan apa yang pasien butuhkan. Hati-hati menggunakan tekhnik komunikasi ini oleh sebab dapat dianggap sebagai penghinaan.

 

  1. Klarifikasi

Klarifikasi (clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.

Saat pasien menjelaskan dengan tergesa-gesa, menahan nyeri, sesak kita harus menggunakan Tekhnik komunikasi terapeutik mengulang untuk menghindari kesalahan.

 

  1. Refleksi

Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan isi pembicaraan kepada klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap klien

Dalam Tekhnik komunikasi terapeutik, perawat harus mampu membuat pasien merefleksikan status kesehatannya kini dengan tingkah lakunya sehari-hari.

  1. Memfokuskan

Memfokuskan (focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan.

Setiap kali melakukan Tekhnik komunikasi terapeutik, fokus pada satu masalah lebih baik dari pada banyak. BUkan berapa banyak pasien dengar tapi berapa banyak pasien mengerti.

 

  1. Diam

Tekhnik komunikasi terapeutik diam (silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing.

Berikan pasien kesempatan untuk berpikir. Ingat pasien menganggap segala sesuatu adalah rahasia, dia akan berhati-hati untuk mengungkapkannya, untuk itu pasien perlu waktu untuk diam sebelum menjawab.

  1. Memberi informasi

Memberikan tambahan informasi (informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. Tekhnik komunikasi terapeutik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan.

 

  1. Menyimpulkan

Menyimpulkan (summerizing). Tekhnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan

Menyimpulkan salah satu Tekhnik komunikasi terapeutik yang menjadi sumber kesalahan oleh sebab terlalu cepat membuaat kesimpulan. Kumpulkan semua informasi sebelum menyimpulkan.

hasil akhir dari Tekhnik komunikasi terapeutik adalah menyimpulkan segala permasalahan pasien: teratasi atau belum teratasi, butuh tindak lanjut atau cukup.

  1. Mengubah cara pandang

Tekhnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja.

Cara pandang perawat dan pasien berbeda megenai sesuatu. Tekhnik komunikasi terapeutik bukan hanya mengubah cara pandang pasien, akan terapi penyedia kesehatan juga. Menjadikan cara pandang pasien menjadi cara pandang kita membuat Tekhnik komunikasi terapeutik yang berhasil.

Perawat harus selalu mengubah cara pandangnya dari sudut pasien agar bisa merancang solusi bagi masalahnya. Apa yang pasien anggap penting, merupakan fase awal masuknya promosi kesehatan. Mulailah dari sesuatu yang dianggap pasien penting.

  1. Eksplorasi

Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien.

Tekhnik komunikasi terapeutik menggali semua masalah kesehatan pasien. Masalah utama pasien dikerjakan dahulu dan menyelesaikan yang berikutnya kemudian. Butuh Tekhnik komunikasi terapeutik eksplorasi untuk kadang mengetahui perubahan perilaku atau perubahan kesehatan yang dialami pasien.

Pasien akan menyembunyikan apa yang dia anggap menjadi ancaman harga bagi harga dirinya. Buat pasien merasa berharga sehingga masalah utama muncul ke permukaan.

  1. Membagi persepsi

Menyatakan membagi persepsi (sharing peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan, menyamakan persepsi yang berbeda itu.

Tekhnik komunikasi terapeutik adalah berbagi, kita membagikan pengetahuan medis kesehatan yang kita ketahui, pasien membagikan perilaku kesehatannya kepada kita.

 

  1. Mengidentifikasi tema

Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.

Dalam Tekhnik komunikasi terapeutik tema menjadi penting, jangan lari dari tema pembicaran, arahkan pada tema yang ingin disampaikan.

Hal yang perlu diingat bahwa kita jangan terlalu memaksakan apa yang kita anggap abenar pada pasien. apabila pasien sadar sudah mengalihakan pembicaran dari tema, dapat disimpulkan kalau pasien tersebut tidak ingin membahas tema tersebut, segera undur diri, agar tema yang disampaikan mendapat tempat pada pikiran pasien.

Walaupun kita tampak terlihat gagal dalam menyampaikan tema kita, tetapi apa yang pasien telah dengarkan akan berkembang sendirinya oleh pikiran pasien. Minta orang lain untuk menyampaikan tema yang kita gagal lakukan, karena Tekhnik komunikasi terapeutik bukan berarti komunikasi one to one communication melainkan many to many communication yang dapat direpresentasikan oleh one to one communication.

  1. Humor

Humor bisa mempunyai beberapa fungsi, mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. Tekhnik komunikasi terapeutik Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas, serta menurunkan tekanan darah dan nadi. Humor juga bisa membuat suasana menjadi lebih santai dan rileks. Humor juga bisa melepaskan ketegangan yang terjadi pada proses komunikasi.

 

  1. Memberikan pujian (Reinforcement)

Tekhnik komunikasi terapeutik Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien. Semua orang pasti senang ketika mendapatkan pujian dari seseorang, begitu juga dengan pasien yang mendaptkan pujian dari perawat.

 

Kesalahan dalam tekhnik komunikasi terapeutik

– Terburu-buru tidak ada kesempatan untuk pasien berpikir
– Terlalu cepat membuat kesimpulan
– Bahasa tubuh yang tidak mendukung dan nada suara yang tinggi
– Tidak fokus pada tema atau masalah
– Timing yang tidak tepat
– TIdak menggunakan tekhnik komunikasi terapeutik yang sesuai

Other articles you might like;

Pencarian terkait:

  • asuhan keperawatan komunikasi terapetik

0 thoughts on “Tekhnik-tekhnik komunikasi terapeutik”

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *